Jika kita berbicara tentang ikan cupang hari ini, mata kita sudah terbiasa dimanjakan oleh rentangan ekor Halfmoon yang anggun atau warna-warni Plakat modern yang menyala. Namun, ada satu varietas dengan karakter sirip berduri runcing layaknya mahkota yang memiliki tempat istimewa dalam sejarah percupangan tanah air: Crowntail, atau yang di Indonesia lebih akrab disapa cupang Serit.
Banyak penghobi pemula mengira bahwa varietas unik ini berasal dari Thailand, negeri yang selama berabad-abad menjadi episentrum pembiakan Betta splendens. Padahal, sejarah mencatat kisah yang sama sekali berbeda. Crowntail adalah mahakarya tulen dari lorong-lorong sempit kawasan Slipi, Jakarta Barat, yang lahir dari ketekunan peternak lokal pada akhir era 1990-an.
Awal Mula: Eksperimen di Kampung Cupang Slipi
Memasuki pertengahan dekade 1990-an, kawasan Slipi dan Palmerah di Jakarta Barat dikenal luas sebagai pusat budidaya dan perdagangan ikan hias air tawar, khususnya cupang. Saat itu, pasar ikan cupang hias didominasi oleh ekor selendang (Veiltail) dan cupang aduan berlayar pendek (Plakat). Eksperimen demi eksperimen perkawinan silang terus dilakukan para peternak demi mencari bentuk sirip yang berbeda dari biasanya.
Alkisah, seorang peternak lokal bernama Ahmad Kawilarang bersama rekan-rekan pembudidaya di Slipi mulai memperhatikan anomali genetik pada beberapa anakan cupang mereka. Pada sirip ekor, anal, dan punggung ikan-ikan tersebut, selaput renang (webbing) tidak menutupi seluruh tulang sirip (ray). Ujung-ujung tulangnya justru menjulur keluar, menciptakan ilusi sirip yang sobek atau bergerigi.
Dari Dianggap Cacat Menjadi Primadona Bernama Serit
Pada awalnya, sirip yang menjulur keluar ini sempat dianggap sebagai produk gagal atau kecacatan akibat infeksi busuk sirip. Namun, para pembudidaya jeli melihat potensi estetika yang belum pernah ada sebelumnya. Pola sirip bergerigi tersebut menyerupai gigi sisir rambut tradisional yang dalam bahasa Jawa dan Sunda disebut serit. Dari sanalah nama lokal cupang Serit pertama kali disematkan.
Para peternak kemudian melakukan pembiakan selektif secara ketat (line breeding). Mereka mengawinkan individu-individu yang memiliki pengurangan selaput sirip konsisten hingga menghasilkan keturunan dengan tulang sirip yang kokoh, lurus, dan menjulang tajam. Variasi baru pun bermunculan, mulai dari serit tunggal (single ray), serit dua (double ray), hingga pola menyilang yang dramatis (cross ray atau king crowntail).
Lompatan ke Panggung Internasional: Kelahiran Nama Crowntail
Pesona cupang Serit tidak butuh waktu lama untuk memikat mata komunitas internasional. Pada akhir tahun 1990-an, ikan ini mulai diekspor ke Singapura dan Amerika Serikat. Salah satu tokoh penting yang memperkenalkan varietas ini ke dunia Barat adalah Henry Yin, seorang eksportir dan penggiat cupang. Melihat bentuk sirip yang saat mengembang sempurna tampak seperti mahkota terbalik seorang raja, istilah Crowntail pun resmi diperkenalkan kepada komunitas global.
Dunia hobi cupang internasional seketika gempar. International Betta Congress (IBC), organisasi standar penjurian cupang paling prestisius di dunia, akhirnya secara resmi mengakui Crowntail sebagai kelas tersendiri dalam kompetisi internasional pada awal tahun 2000-an. Pengakuan ini menjadi pengesahan resmi atas kontribusi besar peternak Indonesia terhadap peta keanekaragaman hayati ikan hias dunia.
Warisan Berharga yang Menginspirasi Generasi Baru
Lahirnya cupang Crowntail membuktikan bahwa dedikasi peternak lokal kita mampu melahirkan tren global yang bertahan lintas zaman. Dari bak-bak semen sederhana dan botol kaca bekas di sudut kota Jakarta, sebuah mutasi genetik bertransformasi menjadi salah satu ikon cupang paling dihormati di dunia.
Setiap kali kita memandang cupang Serit yang anggun mengibaskan sirip mahkotanya di dalam soliter kaca, kita tidak hanya sedang menikmati keindahan fauna air tawar. Kita sedang menyaksikan sepotong sejarah hidup tentang kreativitas, kejelian, dan kebanggaan dunia percupangan Indonesia yang berhasil menorehkan tintanya di pentas dunia.
